Riwayat hidup pelukis WIDAYAT

Widayat lahir pada tahun 1923 di Kutoarjo, Jawa Tengah. Ia masuk Sekolah Dasar Belanda yang waktu itu namanya H.I.S., kependekan dari Hollands Inlandsche School. Sekolah untuk kaum pribumi dengan pengantar bahasa Belanda. Setelah tamat tahun 1937 dari H.I.S. Trenggalek, Widayat menuju Bandung untuk melanjutkan sekolahnya di Sekolah Kejuruan Menengah yang tidak diselesaikan sampai tamat. Widayat mempunyai seorang kawan yang kebetulan kakaknya pandai menggambar. Namanya Mulyono, yang menggambar tiap hari Minggu. Itulah awal riwayat hidup Widayat, atau otobiografi  pelukis Widayat, seorang pelukis Indonesia.


Setiap sore Widayat menunggui Mulyono melukis dan memperhatikan dengan cermat bagaimana Mulyono mengayunkan kuas, mencampur cat di palet, yang kemudian lahirlah bentuk-bentuk di atas kanvas. Jika Mulyono selesai melukis, Widayat selalu membersihkan peralatan, mencuci kuas dengan minyak tanah dan menata kembali ke tempat dengan rapi.

Kadang-kadang Widayat memberanikan diri untuk minta cat yang masih tersisa di palet untuk menciba-coba membuat gambar di kertas. Alangkah gembiranya Widayat melihat dia sendiri bias juga menggambar. Meskipun pada awalnya tentu saja belum sebagus karya Mulyono, namun Widayat merasa mendapat kesenangan dan kebahagiaan. Kebahagiaan dalam menggambar tersebut terpupuk dari hari ke hari, akhirnya ia tidak mungkin lepas lagi dari menggambar. Malah ia keluar dari Sekolah kejuruan Menengah.

Pada suatu hari Widayat mendapat kanvas yang berukuran kurang dari 20 x 30cm, lengkap dengan bingkai rentang (spanraam), dari seorang yang biasa menyediakan kanvas untuk Mulyono. Widayat ingat benar waktu7 pertama kali melukis seorang petani yang sedang bekerja di sawah. Waktu itu ia banyak terpengaruh pelukis yang bernama Adam dari Bandung.

Riwayat hidup pelukis widayat selanjutnya : Pada hari-hari berikutnya, setelah Mulyono mengetahui gairah dan kekuatan Widayat melukis, ia diberi kesempatan melukis dengan cat dan kanvasnya yang berukuran besar. Widayat lalu melukis  pemandangan yang hasilnya tidak mengecewakan. Lukisan Widayat bukan saja  pemandangan alam yang ia amati, melainkan sudah diolah menurut fantasi pribadinya. Sebagai anak muda  yang sedang dibakar gairah seni lukisnya, ia selalu melihat lukisn-lukisan yang terpampang di etalase toko di jalan Braga, Bandung. Di antara karya-karya yang dilihatnya adalah karya Abdullah Suriosubroto.

Lukisan pertama Mulyono, setelah disempurnakannya kemudian dijual dan laku. Widayat mendapat bagian dari hasil penjualan itu. Mulai dari tahun 1938 hingga 1939, Widayat menjadi pembantu tetap Mulyono dalam menghasilkan lukisan pemandangan. Widayat mendapat bagian untuk menyelesaikan bagian latar muka, sedangkan Mulyono selain memperbaiki bagian yang masih kurang sempurna, menggarap latar belakangnya. Inilah saat-saat Widayat melakukan pemagangan (apprenticeship) pada pelukis Mulyono dalam arti sesungguhnya.

Penah juga pelukis Widayat bekerja sebagai pengukur ulang kebun karet di Palembang dari tahun 1940 sampai 1942. Selama bekerja di kebun karet ini ia hanya menghasilkan sebuah gambar saja. Dari tahun 1942 sampai 1945 Widayat bekerja di Jawatan Kereta api di Palembang sebagai juru gambar (tekenaar) yang sehari-harinya membuat rel KA ke Sumatera Selatan. Pada jaman rebublik Widayat keluar dari Jawatan KA dan setelah dilatih di Lahat beberapa bulan ia diangkat menjadi letnan I dalam kesatuan PMC (Penerangan Militer Chusus). Waktu kesatuan ini dibubarkan, ia masuk divisi Garuda Sumatera Selatan dari tahun 1945 hingga Nopember 1947. Dari 31 Desember 1947 sampai 30 April 1949 ia menjadi anggota istimewa seksi intelijen Service Brigade Garuda Putih di Jambi. Di divisi  ini Widayat mendapat kepercayaan sebagai pegawai penerangan dan pemimpin pembuatan poster bertemakan perjuangan.

Dalam perjalanan hidupnya, Widayat pernah juga diminta membuat layaer (latar belakang) untuk studio foto. Motif yang ia buat yaitu pemandangan alam yang indah dengan corak realistis. Pernah pula ia mendapat pesanan tukang gigi Cina, selainj menggambar ia harus membuat kaligrafi Cina.

Pada tahun 1949 Widayat membaca di sebuah surat kabar bahwa di Yogyakarta akan dibuka Sekolah Tinggi Seni Rupa. Nama lengkapnya ialah Akademi Seni Rupa Indonesia. Widayat mencoba mendaftar dan diterima. Pada awal 1950 ia menuju Yogyakarta meninggalkan anak cucu di Palembang. Tiba di Yogyakarta, perkuliahan di ASRI sudah berjalan beberapa Minggu. Itulah sebabnya para mahasiswa yang kebetulan baru sekitar 16 orang sudah mulai praktek melukis dengan cat minyak. Hendra Gunawan, seorang dosennya, yang menyarankan Widayat untuk melukis dengan arang dulu. Widayat tidak mau, karena selama ini ia sudah terbiasa menggunakan cat minyak. Widayat kemudian mengusulkan pada Hendra agar ia pun diajarkan melukis dengan cat minyak. Dari angkatan 1950 itu, hanya beberapa orang yang sampai saat ini menjadi seniman.Mereka itu: Hendrojasmoro, G. Sidharta, Edhi Sunarso, Bagong Kussudiarjo, Abas Alibasyah, Gambir Anom, Saptoto dan Widayat sendiri. Seprang teman seangkatannya, Abdulkadir, meskipun pernah menjadi pemimpin ASRI itu, hamper tidak meluiis lagi.

Pada tahun 1954, Sayoga, Widayat, G. Sidharta, Murtibadi, Sukandar dan beberapa lainnya mendirikan Pelukis Indonesia Muda (PIM). Perkumpulan tersebut merupakan sanggar  lukis pertama yang didirikan oleh para mahasiswa ASRI Yogyakarta. Yang kedua tahun 1959, Sunarto PR dan kawan-kawan mendirikan Sanggar Bambu.

Riwayat hidup atau biografi Widayat : Pelukis ini menyelesaikan studinya tahun 1954; setiap tahun ia selalu ikut dalam pameran ASRI, paling tidak dalam rangka perayaan Dies Natalisnya. Widayat mendapat perhatian dan dorongan beberapa dosennya, terutama Hendra Gunawan sebagai dosen praktek melukis dan Kusnadi sebagai dosen Tinjauan Seni (Kritik Seni). Dari Kusnadi pula Widayat mendapat rekomendasi untuk dikirim ke Jepang belajar keramik, seni taman, seni grafis dan merangkai bunga ikebana. Widayat belajar di Jepang dari tahun 1960 sampai tahun 1962.

Penghargaan yang pernah diperoleh Widayat yaitu penghargaan dari BMKN (Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional) di Yogyakarta tahun 1952 dengan karyanya yang terbaik berjudul ‘ Kali Bawang’. Pada tahun 1972 ia menerima Anugerah seni dari pemerintah RI sebagai pelukis kontemporer. Tahun 1974 lukisannya berjudul ‘Keluarga’ yang dipamerkan di Biennal I di Jakarta terpilih sebagai salah satu yang terbaik dalam pameran tersebut.

Pada tahu 1954, setelah selesai belajar di ASRI, ia diterima sebagai salah seorang staf pengajar di ASRI. Bahkan sejak sekembalinya dari Jepang tahun 1962, ia terpilih sebagai Ketua Jurusan Ruang Dalam dan baru meletakkan jabatannya untuk digantikan tenaga muda tahun 1983. Widayat mengakhiri masa baktinya di ASRI tahun 1988. Kini Widayat telah tiada………..hayo…siapa penggantinya? 



Artikel lainnya :

Koleksi lukisan Yun suroso :






Kompetisi Jakarta art award 2012 2010 2008 Lomba seni lukis JAA Fine art gallery fine art painting seni budaya seni kontemporer koleksi lukisan indah lukisan keren buat hotel kantor gedung aula cari gambar dinding gambar abstrak lukis realis lukis kontemporer