Gaya lukisan Widayat dan konsep karyanya

Gaya lukisan widayat dan konsep karya Widayat selama dua tahun pertama belajar di ASRI, adalah bahwa Widayat melukis dengan gaya naturalistis yang merupakan dasar bagi para mahasiswa pada waktu itu. Sebelum membuat corak-corak yang lainnya, corak naturalistis diwajibkan dan harus dikuasai. Dosen-dosennya pada waktu itu antara lain : Hendra Gunawan, Suromo, Affandi, Rusli dan Kusnadi. Mereka mengajar menggambar alam pemandangan, alam benda dan menggambar manusia secara realistis.

Setelah belajar selama satu sampai dua tahun di ASRI, para mahasiswa diharuskan menguasai atau mempunyai corak pribadi. Pada Waktu itu Widayat mulai mencoba-coba mendeformasi bentuk dalam karyanya. Bentuk atau obyek yang dilukis seperti misalnya gunung, manusia dsb. Selain adanya unsure deformasi bentuk, pada waktu itu dalam karya Widayat tidak mementingkan perspektif. Bentuk yang deformatif dan penghilangan perspektif tersebut menjadikan lukisan Widayat bercorak dekoratif. Menurut keterangan Widayat, orang yang pertama kali mengatakan bahwa lukisannya bercorak dekoratif ialah dari salah seorang dosennya yang bernama Suromo. Dari perkataan Suromo itu Widayat mulai tertarik pada gaya dekoratif dan kemudian mematangkan gaya tersebut. Selain itu menurut Widayat, pada waktu itu gaya lukisan dekoratif di Indonesia jarang : para pelukisnya antara lain Kartono Yudhokusumo dan Sudibio.

Pandangan Widayat mengenai Seni Lukis Dekoratif sebagai berikut :

‘Seni Lukis Dekoratif itu suatu corak lukisan yang sifatnya dekoratif, menghias. Jadi dengan lukisan-lukisan yang sifatnya menghias itu – saya juga mempunyai pendapat bahwa lukisan yang saya buat itu ialah sifatnya untuk menghias ruangan. Tujuannya menghias ruangan dan untuk dipasang di dinding’.

Sehubungan dengan Konsep lukisan Widayat dan konsep karyanya lebih lanjut Widayat mengatakan bahwa lukisan yang dipasang di dinding itu banyak ragamnya seperti misalnya kain tenun dari daerah-daerah, itu juga sifatnya menghias. ‘Pokoknya apa saja yang dipasang di dinding itu sifatnya menghias’. Kata Widayat.

Widayat lebih lanjut mengatakan :

‘Lukisan-lukisan saya yang saya pasang di dinding nilai keindahannya tidak sama misalnya dengan kipas yang ditempel di dinding atau sebuah topeng yang ditempel di dinding. Semua hiasan itu menarik tetapi saya anggap tidak mempunyai bobot yang mendalam. Nah untuk saya sebagai pelukis – saya membuat lukisan-lukisan yang dekoratif sifatnya tetapi lukisan-lukisan saya itu selalu saya beri syarat supaya mempunyai bobot, mempunyai kedalaman, mempunyai daya cekam, yang menggelitik, bias menimbulkan rasa haru, rasa tenang dan daya tarik yang mendalam’.


Pesan yang ingin disampaikan Widayat melalui lukisannya yaitu berpijak pada tema lukisannya : ada pesan yang sifatnya melestarikan, mengingatkan dan ada juga yang sifatnya mengenang. Dalam hal pesan yang sifatnya melestarikan dapat dilihat pada lukisan-lukisan yangt bertemakan adegan-adegan yang terjadi pada waktu tertentu, kemudian adegan-adegan itu lama-kelamaan punah seperti misalnya adegan burung blekok yang hinggap di pohon. Tema tentang aneka jenis ikan di laut merupakan tema yang mempunyai pesan mengingatkan. Sedangkan pesan yang sifatnya mengenang dapat diamati pada lukisan-lukisan yang menampilkan adegan-adegan keluarga sedang bertamasya, adegan ketika Widayat bergerilya di Sumatra Selatan.

Widayat terutama tertarik pada karya yang memiliki sifat magis dari suku Asmat Irian Barat (Papua) dan kesenian. (bersambung)



Artikel lain :
Kompetisi Jakarta art award 2012 2010 2008 Lomba seni lukis JAA Fine art gallery fine art painting seni budaya seni kontemporer koleksi lukisan indah lukisan keren buat hotel kantor gedung aula cari gambar dinding gambar abstrak lukis realis lukis kontemporer